buruh dan tulisan

Bangsa Indonesia, termasuk pejabatnya, masih terlalu lekat dengan budaya lisan. Pejabat, ternyata lebih memercayai celetukan lisan para TKI yang ditemuinya di taman, di kereta, atau di gedung pertunjukan daripada tulisan tentang mereka termasuk yang ditulis oleh para buruh itu sendiri.

Another Tit-Bit...

Lorem ipsum dolor sit amet, nisl elit viverra sollicitudin phasellus eros, vitae a mollis. Congue sociis amet, fermentum lacinia sed, orci auctor in vitae amet enim. Ridiculus nullam proin vehicula nulla euismod id. Ac est facilisis eget, ligula lacinia, vitae sed lorem nunc.

Kesunyian Siter di Kaki Senja

Oleh: Teguh Budi Utomo

Baginya berkesenian bagai memintal helai kehidupan. Jika memanggul siter di tengah terik pun dia anggap garis takdir. Pasrah dalam kaffah Rukini menyusuri lorong waktu yang bernama kehidupan. “Saya ya begini ini, Mas,” demikian ungkap Rukini. Kalimat-kalimatnya tak panjang. Sakleg tanpa pemanis. Tanpa basa basi ketika mengungkapkan perjalanan melakoni seni siter. Pemain kecapi berusia 53 tahun yang sejak perawan keliling kampung mengamen.

Bermain siter telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Ibu dua putra ini. Apalagi seni tradisi yang biasanya menjadi pasangan dari gelaran pertunjukan Cokekan ini, telah menemani perjalanan hidupnya. Dari siteran pula ia merasakan hitam putihnya perjalanan.

Posturnya memang tak tinggi, namun istri Asmuji demikian kuat. Sekuat jemarinya ketika memetik dawai siter. Kuat dan keras suaranya, namun lembut terasa. Serenada yang dihasilkan menjadikan burung kutilang di hutan wisata Dander, Bojonegoro, enggan terbang.

“Menjadi pemain siter memang susah, jarang yang mau nglakoni” kata Rukini usai manggung dalam Kemah Budaya Jawa di tempat wisata Dander, Kabupaten Bojonegoro, siang di penghujung Oktober 2009.

Bisa jadi di wilayah Kabupaten Bojonegoro dan Tuban, hanya seorang Rukini yang masih bertahan. Sulit menemukan generasi baru yang rela menggeluti siter. Terlebih sampai melakoni ngamen hingga njajah deso milangkori. Sebagaimana yang dilakoni seorang Rukini. Sebagai pemetik senar dan sindhen (vokal) perhelatan siter.

Terkadang Rukini tak sendiri ketika mengamen. Jika muncul di kantor-kantor pemerintah, hotel, perempatan jalan, Pasar Kebo Bojonegoro atau bahkan sampai di Pantai Boom Tuban bersama pemain kendang, gong bumbung, bukan lagi siteran tetapi Cokekan. Kalau sudah pentas Cokekan biasanya dia menyertakan seorang sindhen. Tentunya di samping dia sendiri sebagai vokalisnya.

Gending-gendingnya pun tak sebatas gending klasik, semacam, Asmorodono, Sinom Parijoto, atau Perkutut Manggung. Tapi juga gending kasaran, sebangsa, Ali-ali, Caping Gunung, Sri Huning bahkan Kembang Kemangi.

“Kalau cokekan, biasanya ditanggap orang sampai Rp 2 juta semalam,” ungkap Rukini menyoal honor yang dia terima ketika pentas Cokekan. Duit sebesar itu, dibagi berempat bersama dua penambuh gamelan dan seorang Sindhen. Mereka bukan satu grup, namun sesekali sepakat pentas bersama dalam gelaran tikar pandhan di sembarang tempat dan waktu berbeda.

Jika sepi tanggapan Cokekan, Rukini ngamen di jalanan. Bahkan sampai ke wilayah Solo, Yogjakarta, Surabaya hingga sampai merambah ke Jakarta.

“Teman saya banyak, makanya bisa ngamen sampai Jakarta.”

Ngamen dengan honor seiklasnya dari penikmatnya biasa ia lakoni hingga sebulan baru pulang. Ia terbiasa tidur di emperan toko dan lapak-lapak pasar yang ditinggal pedagang di malam hari. Dan terkadang jika mendapat rejeki besar juga tidur di losmen murah.

Pekerjaan ngamen, bagi warga Desa Kuncen, Kecamatan Padangan, Bojonegoro ini, bukanlah pekerjaan mudah. Ia musti memanggul sendiri siter. Perangkat musik tradisi yang biasa menjadi pelengkap pertunjukan gamelan Jawa. Kotak seukuran 50 Cm x 1 meter itu, telah menemani Rukini sejak lajang.

Panjang pula goresan hidup yang dijalani putri dari pasutri almarhum Saeran dan almarhumah Diyem asal Solo (Jawa Tengah), selama menjadi pengamen siter. Dia mengenal dunia siter bukan dari seorang guru. Buta huruf yang dialaminya menjadikan rasa dan daya serap suara di telinganya demikian kuat. Ia hanya mendengar dari lantunan siter yang dimainkan almarhum orangtuanya Saeran, untuk kemudian diterjemahkan dalam petikan jemari lentik gadis Rukini semenjak usianya 11 tahun.

“Saya belajar dari alam,” ujar perempuan yang selalu tersenyum sebelum berkata-kata ini. Suaranya renyah ketika tertawa. Halus tutur katanya. Khas seniman tradisional Jawa. Namun, begitu indah dalam nada tinggi ketika melantun.

Bagi seorang Rukini, bergulat dengan siter tak ubahnya memahami perjalanan hidup. Perjalanan nan panjang berkelok. Dari ngamen siter pula ia mengenal beragam sifat orang. Terkadang dilecehkan. Terkadang disanjung. Sering pula dianggap perempuan tak benar, karena dimana dia berpijak disitu pula merebahkan tubuh ringkihnya karena lelah.

Dia sadari tak memiliki tempat berteduh pasti ketika mengamen. Pasrah melakoni hidup berkesenian, tak membuat hatinya kelu. Baginya setiap makluk sudah memiliki takdir. Kalaupun takdir dia sebagai seniman, telah dia terima dengan ikhlas. Dan totalitas seorang Rukini melakoni profesi pengamen siter, telah menjadi khasanah tersendiri para pelaku seni tradisional di Bumi Angling Darmo dan sekitarnya.

Sekalipun begitu, perempuan berumur ini masih terlihat brigas. Nada bicaranya tegas. Setegas cengkok sindhen berpengalaman kala melantunkan gending. Rambutnya yang andan-andan disanggul jatuh ke belakang. Gurat di wajahnya yang sawo matang demikian tegas, menyimbulkan sikap yang kuat menjalani hidup berkesenian.

Baju kebaya merah jambu berornamen lobang, demikian pas memadu kain jarik parang. Sandalnya yang merah muda dan tas perempuan warna serupa, tergeletak di samping kanan dan kiri agak ke belakang siter. Perempuan seniman tradisi ini pun terlihat anggun di atas panggung. Panggung yang dikemas menyatu dengan alam.

Dan dawai asmara pun mengalir seiring bait demi bait gendhing. Dari bibir titis berginju Rukini. Sesekali tampak tersenyum ketika syair gendingnya disenggak para penonton. Ratusan pegiat budaya Jawa pun hanyut dalam ritme petikan siter. Naik turun mengombang-ambingkan emosi jiwa.

Manuk manyar ...
Cucuke dawa...
Entuk anyar ...
Sing tuwa disiya-siya ...


Penggalan bait tembang kasaran dari Gending Sambel Kemangi ini, yang bisa berarti burung manyar paruhnya panjang, dapat yang baru istri tua disia-siakan, begitu ngelangut dan memelas. Iramanya pelog pathet enam demikian kuat. Senggakan para pengunjung pun kian menghidupkan perhelatan. Dan Rukini pun demikian asyik mencandakan nasibnya melalui petikan dawai siternya. (*)

*Naskah ini termuat di rubrik Humaniora, Duta Masyarakat (www.dutamasyarakat.com) 1 November 2009.

Read More......

WIS DAKTINGGAL

Suripan Sadi Hutomo

wis daktinggal bojo lan anak
lunga menyang Hong Kong
geneya kowe kok ngomong sengak
apa wong wadon ora oleh nginger bokong?


aku lunga golek sandhang lan pangan
awit negaraku wis ra nduwe pengayom
marang rakyate kang uripe kecingkrangan
awit subur lan makmur mung mitose tetembungan

nek aku meteng ing Hong Kong
kowe arep apa?
kuwi darbekku, darbekku dhewe
apa gunane kowe anyaruwe?

aku pancen barisane tekawe
nanging aku nyambutgawe
apa kuwi ora luwih mulya kahanane
tinimbang bapak pemimpin sing rakus watake?

[Suripan Sadi Hutomo]

bojoku wis ra nyambutgawe
apa aku dikon nekem weteng luwe?
anakku wuda
apa kuwi perangane negara merdika?

aku lunga nyambung nyawa
awit kebangeten negaraku Indonesia
awit produksine negara
mung ngekspor manungsa kanggo tumbale negara

Bogor, 20 Agustus 1998

[saka majalah Panjebar Semangat]

Read More......

Membangun Rumah dari Para Penyumbang

Yainem, Janda Termiskin di Kecamatan Ngrayun

Mbok Yainem, janda miskin di Desa Mrayan, Kecamatan Ngrayun, Ponorogo, Jawa Timur, yang hidup bersama 2 orang anak [dari keempat anaknya] lumpuh itu ternyata kini sudah membangun rumah baru. Inilah laporan Bonari Nabonenar yang ditugasi BI mengantarkan sumbangan barang-barang dan uang dari para pembaca BI di HK untuk keluarga janda termiskin itu.


Malam itu belum terlalu larut. Masih sekitar pukul 20.00. Malam lebaran 1427 H (Minggu 22 Oktober 2006). Tetapi, suasana Dusun Krajan, Desa Mrayan, Kecamatan Ngrayun, Ponorogo, Jawa Timur, sudah tampak senyap. Sepanjang perjalanan sejak Kecamatan Bungkal, sekitar 25 km sebelum Ngrayun, hanya sesekali berpapasan dengan kendaraan lain, motor atau truk. Jalan berkelok-kelok, cenderug terus menanjak. Bahkan ada salah satu tanjakan yang disebut-sebut sebagai tanjakan 23, rasanya nyaris tegak lurus dengan langit. Jika pengendara tak berpengalaman di pegunungan, sekali salah oper kendaraan sebagus apapun dijamin mogok di tengah-tengah tanjakan. Jurang di sisi kiri jalan yang tertusuk lampu motor, menawarkan kengerian.

Kami berdua [Bonari Nabonenar dan Purwo Santoso, Red] baru kali ini melintasi jalan ini, apalagi dengan mengendarai motor sendiri. Beras 50 kg ada di motor yang dikendarai Purwo, sedangkan barang-barang lain [semuanya dibeli dari sumbangan para pembaca BI untuk diteruskan kepada keluarga Yainem] ada di motor yang saya kendarai. Ditambah uang kontan Rp 300 ribu, nilai total bantuan itu Rp 1 juta.

Setelah dua kali bertanya, sampailah juga akhirnya kami di Desa Mrayan. Karena dingin membuat otot-otot kami seolah mengkerut, kami memutuskan mampir dulu di sebuah warung kopi, persis di sebelah masjid kecil. Ada puluhan anak agaknya baru menyelesaikan pelajaran mengaji. Tetapi samasekali tidak terlihat tanda-tanda bahwa mereka akan merayakan Lebaran keesokan harinya. Belum ada takbir berkumandang. Sambil menikmati kopi, kami mendengar dari RRI [Radio Republik Indonesia] Menteri Agama menyiarkan bahwa Hari Raya Idul Fitri 1427 H jatuh pada hari Selasa, 24 Oktober 2006, dengan tambahan kalimat bahwa Pemerintah tetap menghormati mereka yang merayakannya pada hari Senin, 22 Oktober 2006.

Pemilik warung memberi cukup banyak informasi mengenai Desa Mrayan, kehidupan mayarakatnya yang sebagian besar petani, dan tanahnya yang cukup tandus. Bahkan hutan pun banyak yang gundul, dan kalaupun ada tanamannya adalah pinus. Tetapi, saat ditanya di mana persisnya alamat rumah Mbok Yainem, pemilik warung [suami dan istri] tidak bisa memberikan jawaban yang tepat. Mereka hanya mengatakan bahwa memang ada nama Mbok Yainem, bahkan beberapa orang dari luar daerah, yang bermaksud mengantarkan sumbangan kepada janda miskin itu sempat mampir di warung mereka.

Untuk tidak memperpanjang kebingungan dan keburu malam melarut, kami memutuskan untukmampir saja ke rumah Kepala Desa. Tak susah mencari alamat rumah Kepala Desa, karena semua orang di sini pasti bisa menunjukkannya. Lebih dari itu, Purwo Santosa pernah menemui Pak Bandi [Kepala Desa itu] di rumahnya beberapa waktu lalu saat meliput pemakaman jenasah Suprihatin [almarhumah] TKI yang meninggal karena jatuh dari apartemennya di HK.

Rumah Baru
Pak Bandi pas ada di rumah. Takut keburu malam larut, kami tidak berlama-lama, dan segera minta alamat rumah Mbok Yainem. Pucuk dicinta ulam tiba. E, ternyata kami malah diantar bersama beberapa orang tetangga yang malam itu sedang nonton [TV] bareng di kelurahan [sebutan mereka untuk rumah Kepala Desa]. Lhadalah, ternyata rumah Mbok Yainem hanya beberapa meter [sekita 50 m] dari rumah Kepala Desa.

’’Ini, Mas, rumahnya,’’ kata Pak Bandi.

Maka, kami memarkir motor dan beberapa orang membantu menurunkan barang-barang bawaan kami.

’’Oh, rumah baru!’’ batin saya hampir memekik. Memang terkejut, tiba-tiba mendapati pemandangan rumah baru itu, walau sangat jauh dari sebutan megah. Sebab, gambaran yang ada di dalam benak sebelumnya jauh lebih buruk daripada kenyataannya sekarang.

Seolah membaca keterkejutan kami, Pak Bandi segera menjelaskan, bahwa rumah ini memang belum lama dibangun.

’’Ini semua berkat para dermawan yang menyumbang, Mas.’’

’’Dari warga desa, para tetangga sini ya, Pak?’’

’’O, begini, Mas. Para tetangga di sini hanya bisa membantu menyumbang tenaga saja. Yang mengerjakannya memang mereka. Tetapi biayanya, dananya, ya dari para penyumbang, ada yang dar Singapura, ada yang dari Malaysia, dari Hong Kong juga ada. Mereka kebanyakan mengantarkan sendiri sumbangan itu ke sini,’’ demikian penjelasan Pak Bandi.

Lalu, Pak Bandi seolah dapat kesempatan untuk semacam curhat, mengadu [karena tahu setelah perkenalan bawa kami mewakili media: Grup Berita Indonesia].

’’Terus terang, Mas, saya kadang jadi terharu, melihat orang-orang dari jauh berbondong-bondong ke sini untuk menunjukkan simpatinya kepada warga desa kami khususnya, memberkan sumbangan, sedangkan Pak Bupati baru belum lama ini menyematkan datang setelah sekian tahun seolah desa ini tidak pernah bisa melihat siapa Bapak [Bupati]-nya. Dan itu tampaknya berkat gencarnya media. Penderitaan Mbok Yainem ini, misalnya, pernah dimuat di Majalah Liberty, lalu di tayangan Kejamnya Dunia [Trans TV]. Tapi mereka kadang salah menyebut nama, ada yang Yatinem, ada yang Yaitem, padahal yang benar Yainem.’’

Lalu, Pak Bandi untuk kesekian kali mengucapkan terima kasih kepada para penyumbang dan kepada pihak media yang telah menampilkan potret nyata [walau sebegitu buramnya] kehidupan masyarakat pedesaan yang selama ini nyaris luput dari jangkauan penguasa.

Lumpuh
Rumah baru itu berukuran 7 x 5 m, beratap seng, berdinding papan, dan masih berlantai tanah. Tidak ada kamar tidur di dalamnya. Yang ada hanyalah sekat dinding papan yang memisahkan ruang dapur dengan ruang utama.

Di ruang dapur ada berbagai perabotan dapur sederhana, kemudian tungku pembakaran untuk memasak dengan bahan bakar kayu, dan sebuah amben. Di ruang utama ada sebuah meja dan beberapa kursi. Jika ada tamu melebihi kapasitas kursi yang tersedia, digelarlah tikar.

Di rumah itu Mbok Yainem hidup bersama dua orang [dari 4 orang] anaknya. Keduanya lumpuh karena [sepertinya folio –karena belum ada keterangan resmi dari dokter] sejak kecil dan samasekali tidak bisa bekerja. Anak Mbok Yainem seharusnya ada 5 orang, tetapi anak pertama meninggal saat usia belasan tahun. Anak pertama ini seandainya bisa terus hidup hingga sekarang, akan menambah berat beban, sebab ia juga penderita folio.
Anak kedua, yang kemudian menjadi paling tua adalah perempuan bernama Tumini, ia sudah menikah, sudah membangun rumah sendiri persis di depan rumah Mbok Yainem. Tumini sendiri bekerja di Kota Ponorogo, dan rumahnya ditunggu suami bersama 2 orang anaknya yang masih kecil.

Anak kedua Wijiyanto [lihat fotonya yang sedang di amben di ruang dapur]. Ia lumpuh. Anak ketiga Jaswadi, sudah menikah dan dikaruniai seorang anak yang sehat. Sedangkan si bungsu, Supriyanto, lumpuh juga.

Jadi, Mbok Yainem, janda tua itu harus hidup bersama 2 orang anaknya yang tidak bisa bekerja, yang makan pun masih perlu disuapi.

Terharu
Menerima bantuan teman-teman pembaca BI, Mbok Yainem tampak nyaris menitikkan air mata. Suaranya bergetar ketika berucap, ’’Maturnuwun sanget nggih, Mas, mugi Gusti Allah ingkang maringi ganjaran.’’ [Terima kasih sekali ya, Mas, semoga Tuhan memberikan balasannya.]

Pak Bandi, sebelum kami berpamitan juga tak lupa ikut menyampaikan rasa terima kasih kepada para pembaca BI, kepada BI yang membantu mengimpun dana sumbangan, dan berdoa semoga kawan-kawan lancar bekerja, dan kelak bisa pulang ke tanah air dalam keadaan selamat dengan membawa hasil seperti yang mereka cita-citakan.

Di banyak tempat yang kami lewati sepanjang perjalanan pulang, ternyata takbir sudah sebegitu ramai, pertanda bahwa esok [Senin, 23 Oktober 2006] mereka akan merayakan Hari Lebaran. [BI]

Read More......

Memerintah Tanpa Budaya (Lagi)

Saifur Rohman

Kabinet Indonesia Bersatu II 2009-2014 secara mengejutkan tidak lagi menempatkan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di bawah koordinasi Menko Kesejahteraan Rakyat sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, tetapi kini berada di bawah Menko Perekonomian. Jika strukturisasi kabinet adalah sebuah refleksi dari sistem pemikiran tentang idealitas pemerintahan, dengan kebijakan itu, unsur ”kebudayaan” tampaknya telah dianggap sebagai substruktur yang tak jauh berbeda dengan ”pariwisata”.


Dalam kacamata kuantitatif, konsepsi kebudayaan itu hadir sebagai entitas mikro dalam desain pembangunan nasional. Bacalah, anggaran belanja yang tertuang dalam RAPBN tahun 2010, memberikan alokasi dana kepada kebudayaan sekitar Rp 300 miliar (0,028 persen) dan kesenian sekitar Rp 78 miliar (0,0074 persen). Bisa dikatakan sama dengan tahun sebelumnya.

Jika pembangunan kebudayaan merupakan bagian kecil dalam desain pembangunan nasional, penting kiranya menanyakan kembali orientasi pemerintahan masa kini. Bagaimana rupa pemerintah tanpa budaya? Bagaimana mungkin sebuah pemerintahan dibangun tanpa fondasi strategis terkait dengan kebudayaan?

Budaya sebagai alas
Penelusuran di dalam rumpun ilmu sosial, khususnya sebuah teori ekonomi, akan didapat istilah corporate culture sebagai titik orientasi kinerja seorang karyawan dalam praksis kerjanya sehari-hari. Demikian pula, teori kepemimpinan memberikan istilah transformational leadership dalam setiap organisasi untuk mewarisi semangat yang dibentuk para pendiri perusahaan.

Teori politik yang dikembangkan Hannah Arendt dalam The Origin of Totalitarianism (1976: 89) memperlihatkan integrasi sosial di dalam sebuah pemerintahan haruslah diikat dengan ”sebuah ketundukan terhadap identitas yang terus diperkuat oleh penguasa”.
Ikatan-ikatan inilah yang menjadikan sebuah negara-bangsa bisa didirikan. Eksplisitasi di dalam anggaran dasar yang disebut dengan undang-undang dan semboyan yang disebut dengan falsafah bangsa adalah orientasi kultural yang didesain sejak awal pembentukan negara. Oleh karena itu, pelestarian dan pengembangan falsafah ini sesungguhnya lebih penting dari kebutuhan apa pun di republik ini.

Tinjauan pembangunan kultural dari masa ke masa memperlihatkan adanya upaya yang sangat luar biasa membangun kebudayaan sejak awal. Nagara Krtagama karya Mpu Prapanca pada abad ke-12 memperlihatkan konsepsi kebudayaan melalui dharma sebagai pengabdian kepada Syiwa Buddha. Raja Hayamwuruk sebagai pelindung negeri dan abdi yang menyejahterakan rakyat selalu menetapkan waktu-waktu tertentu untuk ”menyembah Syiwa Buddha”.

Demikian pula, Kerajaan Islam pada 1478 dalam chandra bumi sirna ilang kertaning bumi (1400 Saka atau 1478) meninggalkan kebudayaan intangible bagi generasi-generasi sesudahnya. Istana kerajaan Raden Fatah tidak ditemui, tetapi Masjid Demak membawa ikon tentang kebudayaan Islam masa lampau yang terpelihara hingga kini.

Fotokopi budaya kolonial
Di bagian lain, pemerintahan Hindia Timur Belanda, yang berada di bawah Kementerian Tanah Jajahan, telah membawa kultur baru dalam pembentukan sistem kebudayaan. Sebagaimana garis kebijakan Kementerian Kolonial di The Haque (Den Haag), penerapan kebijakan di tanah jajahan haruslah dilandasi oleh hadirnya kekuasaan ”misterius” yang mampu memaksa para warga koloni untuk tunduk dan patuh.

Sistem cultuurstelsel (tanam paksa), landrente (pajak tanah), sistem onderneming (perkebunan), dan poenali sanctie (hukum buruh) dalam kebijakan perburuhan yang diterapkan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 itu telah memengaruhi pola pikir masyarakat kolonial tentang idealitas-idealitas sebuah kebudayaan. Artinya, kebudayaan haruslah di bawah kendali sistem perekonomian yang memiliki orientasi jelas, yakni orientasi kapitalistik yang menghamba terhadap keuntungan.

Kita berada pada sebuah masa ketika gerakan angka-angka dalam statistik ekonomi dimaknai sebagai pertumbuhan. Dan kesejahteraan masyarakat Indonesia hanyalah masalah kuantifikasi Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index).

Persoalan-persoalan identitas keindonesiaan, semangat kebersamaan, keadilan sosial, dan pelestarian filsafat bangsa pun tertinggal sebagai bagian dari kurikulum tua yang tidak pernah diperbarui di dalam sistem pendidikan kita.

Lebih dari itu, pembangunan kebudayaan dalam strategi pemerintahan seperti barang apak yang disimpan di gudang tua tak tersentuh. Sampai lima tahun lagi. Setidaknya.

Saifur Rohman Pengamat Seni dan Budaya, Alumnus Doktor Filsafat Universitas Gadjah Mada, menetap di Semarang

Kompas, Sabtu, 14 November 2009 | 03:47 WIB

Read More......

Teori Resepsi dan Korupsi

Budi Darma

Terceritalah, pada tahun 1929 seorang pemikir bernama IA Richards menganalisis kekeliruan para mahasiswa dalam memahami teks. Dari sini kemudian lahir berbagai teori tentang sikap pembaca terhadap teks.


Teori demi teori terus berkembang, sampai akhirnya terbentuk Reader Response Criticism, dan kadang dinamakan Teori Resepsi, yaitu pemaknaan pembaca terhadap teks.

Teori ini berangkat dari sebuah postulat bahwa teks baru mempunyai makna manakala teks itu dibaca dan, dalam menghadapi teks, pembaca pasti menyikapi teks itu sesuai dengan kemampuannya menangkap makna teks. Kemampuan ini ditunjang berbagai faktor, antara lain pengalaman pembaca dalam membaca berbagai teks, perjalanan hidup, dan pandangannya terhadap kehidupan.

Pada mulanya teks sastra
Awalnya pengertian ”teks” ini terbatas pada teks sastra, tetapi tidaklah mustahil manakala pengertian awal ini bisa berkembang ke mana-mana. Karena itu, jangan heran manakala teks bisa juga identik dengan kehidupan.

Membaca teks, dengan demikian, bisa identik dengan membaca kehidupan dan, karena membaca kehidupan menyangkut berbagai aspek, setiap orang memiliki hak memaknai kehidupan sesuai dengan daya tangkapnya.

Karena teori resepsi lahir melalui proses panjang, dengan sendirinya nama tokohnya juga banyak. Meski demikian, pada hakikatnya semua pendapat menjurus pada muara yang lebih kurang sama: dimensi empiris, dimensi foregrounding, dimensi harapan, dimensi ketidakmengertian, dan dimensi keterkaitan teks dengan realitas. Keterkaitan antara satu dimensi dan dimensi lain dengan sendirinya amat kuat.

Dalam dimensi empiris, pembaca dituntut punya pengalaman membaca teks alias kehidupan. Dalam dimensi foregrounding, pembaca dianggap dapat menangkap makna kehidupan dan apa kiranya yang akan terjadi kemudian. Karena diharapkan dapat melihat apa yang kira-kira akan terjadi, muncul dimensi harapan, yaitu harapan mengenai penyelesaian apa yang akan terjadi selanjutnya.

Lalu, muncul dimensi ketidakmengertian karena baik dalam menghadapi teks maupun kehidupan, kemungkinan adanya sambungan yang hilang selalu ada. Akhirnya, agar tervalidasi, semua dimensi ini harus dikaitkan dengan realitas, yaitu kehidupan yang benar-benar terjadi lengkap dengan dinamika perkembangannya.

Dinamika perkembangan perlu dipertimbangkan karena teks alias kehidupan tak lain adalah sebuah dunia yang tak mungkin statis. Ketidakstatisan ini bisa menjadi lebih rumit karena setiap pembaca punya daya tangkap sendiri dan daya tangkap ini bisa berkembang karena berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal dalam hal ini identik dengan pengalaman dan kematangan pembaca yang tentunya tak akan selamanya statis. Faktor eksternal terkait dengan dinamika realitas di luar pembaca.

Komisi III DPR
Satu contoh dinamika realitas bisa kita simak lewat fakta dalam acara dengar pendapat Komisi III DPR beberapa waktu lalu. Dalam acara ini, Kapolri tampak sangat gagah dan sangat percaya diri. Terasa benar bahwa Komisi III mendukung Kapolri. Fakta ini menunjukkan bahwa pemimpin (nonaktif) KPK harus segera diadili karena bukti untuk mengadili mereka sudah cukup kuat. Fakta ini juga mengacu pada dugaan bahwa pemimpin (nonaktif) KPK ini sangat pantas dilemparkan ke penjara.

Makna teks alias kehidupan mengalami perubahan karena ada kekuatan eksternal yang bisa, paling tidak untuk sementara, menggerakkan perubahan. Pembaca dengan sendirinya paling tidak untuk sementara bisa pula terpengaruh dan, karena itu, pemaknaannya terhadap teks alias kehidupan juga bisa berubah.

Namun, apa pun yang terjadi, pembaca tetap memiliki berbagai dimensi, antara lain dimensi empiris, dimensi foregrounding, dan dimensi harapan. Dengan berbekal tiga dimensi ini, pembaca dapat menyimpulkan bahwa pola-pola yang lebih kurang sama pasti akan dipertontonkan oleh pihak-pihak yang diduga terkait masalah rumit ini.

Pola ini selalu muncul dalam bentuk itu-itu saja, antara lain bantahan telah melakukan perbuatan tertentu, penyebutan nama Tuhan dan sikap religius, pemerasan air mata, dan ketersekonyong-konyongan terserang penyakit. Semua perwujudan ini, dalam berbagai versi, sudah ”diharapkan” oleh pembaca pasti akan muncul. Atau, apabila seseorang yang diduga tersangkut perkara merasa mempunyai kekuatan besar, sikap-sikap jumawa pasti akan dipertontonkan oleh orang semacam ini. Aparat pun akan ragu-ragu memprosesnya.

Ketidaktahuan
Ada lagi dimensi yang penting: ketidaktahuan. Ketidaktahuan bisa terjadi karena derajat rantai hilang dalam satu kasus dengan kasus lain mungkin saja berbeda dan mungkin pula perbedaannya sangat mencolok. Jangan heran, dengan demikian, manakala Tim 8 pernah bingung dan, karena itu, mengancam akan mengundurkan diri.

Pembaca, dalam hal ini masyarakat, juga bingung. Namun, karena masyarakat, menurut istilah Carl Gustav Jung, diikat oleh kesadaran bersama, hati nurani masyarakat akhirnya akan berbicara tanpa kepura-puraan.

Budi Darma, Sastrawan

Kompas, Sabtu, 14 November 2009 | 02:49 WIB

Read More......

Hapus Terminal Khusus TKI

Hapus Terminal Khusus TKI



Read More......

Nurani Lawan Keangkuhan

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Wartawan senior Kompas menilai, membeludaknya dukungan terhadap kasus penahanan Bibit-Chandra oleh kepolisian menunjukkan nurani rakyat belum mati. ”Bagi rakyat, nurani inilah harta yang tersisa,” tutur wartawan itu melalui SMS kepada saya.


Meski rakyat telah lama menjadi bulan-bulanan dan tertipu bermacam retorika politik, baik dalam format janji-janji muluk saat pemilu maupun dalam corak pencitraan diri, toh dalam masa-masa kritikal nurani mereka yang terdalam tidak dapat dilumpuhkan. Itulah milik terakhir rakyat di tengah penderitaan yang belum teratasi sejak proklamasi, lebih dari 64 tahun lalu.

Sejarah Indonesia
Sebagai seorang peminat perjalanan sejarah Indonesia, dengan prihatin saya membaca, hanya sedikit di antara pemimpin kita yang benar-benar serius mengurus masalah bangsa ini demi mencapai tujuan kemerdekaan: keadilan dan kesejahteraan bagi semua. Sebagian besar adalah petualang yang tidak merasa malu mengatakan bahwa mereka adalah Pancasilais sejati.

Dengan kemajuan yang telah diraih di sana-sini dalam berbagai sektor kehidupan—dan capaian itu perlu disyukuri bersama—bangsa ini tetap dilingkari gurita budaya kumuh yang dapat membawa kita pada ketidakpastian masa depan.

Hingga detik ini, kita sedang membau aroma busuk tentang kemungkinan adanya kaitan antara kasus Bibit S Rianto- Chandra M Hamzah dan perampokan (istilah Jusuf Kalla) yang menimpa Bank Century, tetapi kita tidak tahu sampai di mana benarnya serba dugaan itu.

Saya mendapat informasi dari salah seorang pengacara Bibit-Chandra, keduanya berniat melakukan pengusutan terhadap megakasus Bank Century, akan mereka teliti, selama ini, ke mana dana haram itu mengalir. Namun, segala kecurigaan ini akan tetap menggantung di langit tinggi selama keangkuhan kekuasaan masih mendominasi sistem perpolitikan kita, meski sering dibungkus dalam jubah kesopanan lahiriah. Pragmatisme politik amat terasa dalam kultur kita, sebuah kultur tunamoral dan tunavisi.

Namun, sekiranya Bibit-Chandra tak diperlakukan dengan cara kasar melalui penahanan paksa, reaksi publik tentu tidak akan sedahsyat seperti terjadi pada hari-hari terakhir ini. Presiden yang semula terkesan tak mau campur tangan karena menilai kasus itu sebagai kasus biasa, akhirnya ”dipaksa” kenyataan untuk membentuk apa yang disebutnya sebagai Tim Independen Verifikasi Fakta dan Proses Hukum (TIVFPH) dengan masa kerja dua minggu, mulai Selasa (3/11/2009).

Apakah tim ini akan berhasil melakukan tugasnya, mari kita tunggu. Namun, ungkapan independen agak sedikit terganggu oleh masuknya dua pakar hukum yang sudah sedikit menempel dengan kekuasaan, meski di kawasan pinggiran.

Sebagai seorang demokrat yang tak ingin melihat demokrasi menggali makamnya sendiri untuk sekian kalinya sejak kita merdeka, prasangka semacam ini harus saya tekan sambil menanti hasil kerja tim yang baru dibentuk. Siapa tahu, semua anggota tim adalah manusia merdeka yang hanya terikat dengan filosofi, demi tegaknya kebenaran dan keadilan, tidak peduli siapa yang membentuknya.

Sulit ditaati
Seterusnya keangkuhan kekuasaan dalam masalah Bibit-Chandra ini juga disampaikan seorang petinggi Polri dalam formula ”cicak lawan buaya”, meski Kapolri telah minta maaf agar istilah itu tidak lagi digunakan. Larangan penggunaan ungkapan keangkuhan ini sulit ditaati karena orang tidak mungkin melompat ke depan dalam satu kevakuman. Mohon saya dimaafkan Pak Kapolri jika istilah ini masih saya pakai dalam artikel ini. Cicak tidak lain adalah KPK yang kecil, berhadapan dengan Polri yang kuat, yang langsung berada di bawah payung presiden yang berkuasa, sebuah posisi yang perlu dipertanyakan kembali dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

Akhirnya, saya berharap agar pertarungan antara Polri melawan KPK akan dapat diselesailan secara baik, jujur, dan adil. Jangan sampai kehebohan ini membawa kita pada krisis kepercayaan pada demokrasi yang sungguh berbahaya.

Sebagai catatan kecil di ujung artikel ini, saya perlu menyebut bahwa perhatian publik demikian besar tersita oleh kasus Bibit-Chandra ini sehingga gaungannya jauh melampaui ingar-bingarnya perhelatan Dialog Nasional (National Summit) ala Obama yang digagas presiden pada awal masa jabatan keduanya.

Ahmad Syafii Maarif Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah


Kompas, Rabu, 4 November 2009

Read More......